Rabu, 23 Mei 2012

Seni Tradisiona SulSel di Persimpangan Jalan


SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
DIPERSIMPANGAN JALAN

Oleh: Pangeran Paita Yunus

Kesenian adalah salah satu unsur yang selalu ada pada setiap bentuk kebudayaan. Keberadaannya sangat terkait dengan kebutuhan manusia untuk memenuhi kepuasannya akan unsur estetis. Kesenian Indonesia yang berada di setiap daerah secara terpisah menyebabkan ia tumbuh dan berkembang sendiri-sendiri sesuai perkembangan jaman, misalnya ekspresi seni Kalimantan beda dengan Sulawesi, Jawa dan tempat-tempat lainnya. Ekspresi seni ini sengaja atau tidak, diwariskan secara turun temurun dan berulang, yang selanjutnya dikenal dengan nama seni tradisional.
            Pemberian predikat itu wajar karena kehadirannya sudah merupakan warisan dan tetap mendapat tempat dihati masyarakat penggemarnya. Bahkan, diantaranya terdapat karya-karya yang telah mencapai puncak perkembangannya, sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut oleh para kreator masa kini. Yang terjadi kemudian hanyalah merupakan perluasan pemanfaatannya pada berbagai fungsi dan kepentingan, misalnya pada bidang pariwisata. Beberapa bidang seni dimaksud yakni seni rupa, seni pertunjukan (musik, tari, teater), dan bentuk kesenian lainnya. Bidang-bidang ini, dalam berbagai hal telah menunjukkan hasil-hasilnya yang berkualitas tinggi dan memuaskan banyak pihak. Apabila ditilik dari kehadirannya yang mampu menembus jaman, dalam rentang waktu yang sangat panjang, dapat dipastikan bukanlah suatu hasil yang dalam perwujudannya tanpa dilandasi oleh pemikiran mendalam dan kreatifitas yang tinggi, tetapi justru sebaliknya, sehingga kehadirannya mampu bertahan dan eksis di tengah-tengah derasnya gelombang perubahan. Suatu realistas yang membanggakan.
            Hal yang perlu di telaah adalah mengapa semua itu terjadi?, nilai filosofis, simbolis dan konsep-konsep yang bagaimana yang melandasi penciptaan dan perwujudannya?, masih relevankah pandangan filosofis kesenian masa lampau itu bagi kehidupan modern?. Itulah beberapa pertanyaan yang timbul mengiringi pembahasan ini, dan pada akhirnya akan menjawab pertanyaan “masih adakah seni tradisional itu?, khususnya dalam konstelasi perkembangan seni tradisional di sulawesi Selatan.
            Untuk memahami kerangka permasalahan di atas, sudah tentu diperlukan suatu studi yang lebih serius, mendorong perlunya ditelusuri atau pun melacak kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam masyarakat pada jamannya. Mengapa demikian, karena merekalah yang menghasilkan karya seni seperti itu, sedangkan pola pikir, perilaku sosial, dan kondisi-kondisi masyarakat sering menjadi sumber inspirasi penciptaan karya seni. Dengan kata lain, kehadiran karya seni baik seni rupa maupun seni pertunjukan sering mencerminkan kenyataan-kenyataan yang pernah terjadi dalam masyarakat pada jamannya. Olehnya itu, pendekatan kesejarahan, semiotik, sosial budaya dalam rangka memahami aspek-aspek estetik, filosofis, dan simbolik serta nilai-nilai fungsional dari kehadiran suatu karya seni pertunjukan atau seni rupa, dipandang cukup relevan. Bahkan tampaknya tanpa pendekatan multi-disipliner seperti itu sulit untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai keberadaannya.

TRADISI ARTISTIK SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

            Seiring dengan mengalirnya perjalanan sejarah, maka dijumpai bahwa seni tradisional bermula pada jaman prasejarah di Indonesia. Pada tingkat awal, pada saat kemandirian manusia belum berkembang, masih ada ikatan ketergantungan yang kuat antara sesamanya maupun dengan alam lingkungannya. Dalam kesatuan masyarakat semacam ini upaya manusia memenuhi kebutuhan  hidup berkembang menjadi kebutuhan sebagai mahluk budaya.
            Tuntutan utama dalam memenuhi kebutuhan manusia sebagai mahluk budaya ialah komunikasi. Salah satu media komunikasi dalam masyarakat adalah bahasa serta bentuk komunikasi lainnya untuk menyatakan maksud dan keinginannya. Bahasa sebagai media komunikasi tidak saja dalam bentuk kata dan kalimat yang diucapkan, tetapi juga dalam bentuk simbol dan bentuk bahasa isyarat , bisa melalui wujud rupa, melalui suara, atau melalui gerak. Dalam proses penciptaannya, simbol ditunjang oleh perasaan keindahan sehingga simbol itu memperoleh makna sebagai karya seni.
            Diduga bahwa karya-karya seni tersebut berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakat, terutama kaitannya dengan pemujaan kepada arwah nenek moyang atau pun kekuatan gaib lainnya. Mereka percaya bahwa dengan perbuatan magis akan terhindar dari mara bahaya, penyakit  dan akan mendapat kesejahteraan, misalnya masyarakat pemburu (primitif) pada masa lampau percaya pada tenaga-tenaga yang mengandung kekuatan gaib yang disebut ‘mana’. Dengan kekuatan gaib ini mereka ingin menguasai binatang yang diburunya. Untuk tujuan ini, mereka membuat lukisan pada dinding gua atau pada dinding tebing dengan tema pokok lukisan perburuan. Binatang yang ingin diburu dilukis dalam keadaan terkena panah atau tombak. Sambil mengadakan upacara dengan gerakan-gerakan yang ritmis mengitari api unggun, mereka berteriak dan bernyanyi melontarkan mantra-mantra sambil menusukkan panah atau tombaknya pada lukisan yang ada dinding. Harapannya adalah perburuan itu dapat mendatangkan kekuatan gaib untuk mencapai sasaran pada binatang buruan tersebut. Demikianlah, bahwa tarian dan nyanyian yang menirukan gerakan dan suara telah ada pada jaman prasejarah. Contoh lain, pada upacara-upacara persembahan ke atas (appanai) dan persembahan ke bawah (appanaung) yang tergambar pada gerakan-gerakan tangan yang dilakukan dalam tari Pakarena. Kesemua gerakan mempunyai makna simbolis dan filosofis yang berdasarkan pada alam pikiran masyarakat pada masa itu.
            Masuknya Hindu di nusantara, nampaknya tidak terlalu mempengaruhi kesenian-kesenian yang ada di daerah di luar Jawa dan Bali. Misalnya sewaktu daerah lain di nusantara, dalam hal ini Jawa dan Bali dipengaruhi oleh kesenian india, maka di daerah lain seperti Nias, Sumatera, Nusa Tenggara, Irian Jaya, Maluku, Kalimantan, dan Sulawesi kesenian prasejarah dan primitifnya berkembang terus. Sebagai contoh seni hias Toraja yang geometris dan patung suku asmat masih terus berkembang dan banyak mengilhami seniman-seniman kontemporer dalam berkarya seni.
            Peran Islam dalam perkembangan seni pertunjukan Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan memang tidak menonjol mengingat jenis-jenis kesenian seperti tarian dan lagu masih merupakan tradisi seni masa sebelumnya. Yang pasti Islam memanfaatkan kesenian lama untuk kepentingan baru, yaitu agama Islam. Segala kegiatan ritual yang melibatkan unsur-unsur tari dan lagu disesuaikan dengan agama Islam.
            Seni pertunjukan Sulawesi Selatan pada jaman Islam belum banyak terungkap. Masih dibutuhkan penelitian yang seksama dengan menggunaan berbagai sumber. Tarian, drama, dan lagu-lagu yang dipentaskan di daerah-daerah yang semula merupakan daerah kekuasaan Islam, masih perlu diteliti seberapa jauh peranan yang dibawakan oleh Islam. Dengan demikian, usaha-usaha selanjutnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan tradisional tersebut dapat berpijak pada landasan budaya yang kuat. Bagaimanapun juga kehadiran alat musik rebana dan alat petik gambus pada seni pertunjukan ‘Samra/Jeppeng’ di Kabupaten Sidenreng Rappang misalnya, cukup mewarnai perkembangan musik bernapaskan Islam di Sulawesi Selatan.
            Dewasa ini, kesenian tradisional yang kini ingin dilestarikan perlu dikembangkan agar timbul karya-karya baru yang berlandaskan tradisi lama. Usaha pengembangan ini sudah mulai tampak hasilnya dalam beberapa jenis kesenian, misalnya para koreografer mulai mendapat rangsangan untuk melahirkan garapan-garapan baru. Namun ada pula seni tradisi yang tidak mampu memberikan kemungkinan untuk berkembang karena tidak adanya faktor-faktor pendukung, seperti pada jaman kejayaan kerajaan masa lampau. Di samping itu, langkah yang ditempuh oleh lembaga-lembaga kesenian dalam upaya mengaktualkan kembali seni tradisi, semisal Yayasan Kesenian Sulawesi Selatan dengan mengundang pekerja-pekerja seni dari empat rumpun budaya yang mendiami Sulawesi Selatan Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja dalam bentuk Festival Seni Sempugi I, II, dan III dan Festival Seni Tradisional Sulawesi Selatan tahun 2002, 2003 dan 2004 lalu, patut dibanggakan ketika tingkat apresiasi seni masyarakat kita mulai mengendor.
            Dari sudut apresiasi seni tradisi, memang tidak gampang, di samping karena generasi muda jarang meliriknya, juga karena penciptaan karya seni dengan memanfaatkan berbagai tawaran teknologi canggih, misalnya lewat media layar kaca lebih menyentuh mereka. Proses penciptaan karya seni lewat paket elektronik tampak lebih mudah disajikan, terutama pada generasi muda yang menggandrungi karya seni yang dipaket lewat tayangan televisi ini. Bentuk seni yang dipaket lewat tayangan televisi memang lebih mudah dinikmati, demikian pula keseriusan dalam penikmatan, apalagi kalau dikemas dengan baik. Yang terakhir terkait dengan gejala generasi muda sekarang yang serba instan/praktis dan umumnya mereka tidak senang dengan hal-hal yang serius. Olehnya itu, perlu dipikirkan langkah-langkah yang mesti ditempuh dalam membingkai seni tradisi yang masih bertahan sampai saat ini dalam ‘bentuk baru’ sebagai salah satu alternatif untuk menghidupkannya kembali (merevitalisasi).

SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

DIPERSIMPANGAN JALAN

            Seniman seni pertunjukan tradisional yang kreatif sekarang, jumlahnya tinggal sedikit dan usianya rata-rata sudah tua. Kemampuan kreatif kesenimannya belum terserap sepenuhnya oleh para muridnya. Kalaupun ada seniman muda yang mulai tumbuh kekreatifannya. Sering tak berdaya saat menghadapi desakan selera massa.
Yang lucunya lagi, golongan seniman non-seni pertunjukan sering menghujad seniman pertunjukan tradisional terlalu ‘manja’, sebab ada kesan pemerintah terlalu mesra dalam mengurus seni pertunjukan tradisional, mereka merasakan adanya “ketidak-adilan”.
Amatan dari dalam, kerumitan dalam kehidupan seni pertunjukan tradisional itu sendiri biasanya berhulu dari etikad baik semua pihak yang merasa ikut memilikinya. Dan bermuara pada keinginan semua pihak untuk ikut mencampuri/menangani, akibatnya menjadi amat sembrawut. Salah urus. Belum lagi, system yang diterapkan pejabat pemerintah yang bermaksud membantu dalam pengucuran dana yang masih penuh dengan ‘birokrasi’ yang menjemukan dan terkesan ‘akal-akalan’, membuat kegiatan tersebut terulur-ulur hingga semua pementasan/festival/`pameran harus dilakukan pada satu bulan ‘keramat’ yakni Desember setiap tahunnya yang kebetulan pas datangnya musim hujan. Walhasil, dengan waktu persiapan yang begitu ‘pendek’ disertai cuaca yang tidak “bersahabat”, maka hasil dari semua festival, kita semua telah maklumi adanya.
Pertanyaan lain yang cukup menggoda, dan pertanyaan itu selalu muncul di saat adanya kegiatan sejenis, adalah: Apakah seni pertunjukan tradisional tersebut hanya sekedar ingin dilestarikan atau mau dikembangkan?
Kalau sekedar ingin dilestarikan, maka kita dapat menyikapinya dengan cara mempertahankan bentuk/pola yang sudah ada, memberinya dana untuk tetap eksis, dan melakukan langkah preventif lainnya yang dapat membuat seni tradisi itu lestari. Tetapi, jika seni tradisi itu ingin dikembangkan, maka diiperlukan  sebuah forum untuk duduk bersama-sama menawarkan format-format dalam upaya pengembangan seni tradisi ke depan.

Amatan Dari Festival ke Festival

Kondisi seni pertunjukan tradisional sekarang, menurut pengamatan kami selama mengikuti setiap event-event kesenian di daerah Sulawesi Selatan, dapat dibagi menjadi tiga golongan, yakni :
1.      Seni pertunjukan tradisional yang lesu darah atau loyo tetapi pantas untuk hidup dan dihidupi (seni tradisional kerakyatan dan seni istana)
2.      Seni pertunjukan tradisional yang garang tapi semu (seni komersial, selera pasar yang menjadi segala-galanya alias ‘Raja’. Seniman yang terlibat terlena tanpa sadar, sehingga nilai seninya sering terabaikan demi uang.
3.      Seni pertunjukan tradisional yang penuh vitalitas – bersemangat  tetapi kesepian. (jenis kesenian ini sering dikelompokkan sebagai karya eksperimental yang bernapas kekinian dan berorientasi masa depan. Orientasinya pada kematangan garapan. Bentuknya pun dapat mengacu pada idiom seni tradisi, dapat pula dari seni rakyat atau istana, atau juga campuran dari keduanya.

Kelompok kesenian kedua, yang garang tapi semu, rasanya orientasi jelas dan hampir tak ada masalah. Kelompok pertama dan ketiga yang mesti diberi perhatian yang sungguh-sungguh dan terarah. Masalahnya, siapa yang mesti memperhatikan ?, jawabannya adalah “Kita”, pejabat pemerintah, seniman, pengamat, budayawan , kritikus, dan yang terakhir orang kaya.
Namun, demikian luas dan rumitnya kata “Kita”, maka pembagian tugas dan wewenang perlu segera dirumuskan bersama, secara proporsional dan profesional.
Untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut, menjadi penting para penggelut dan pekerja seni dalam bidang seni tradisional diposisikan sebagai orang profesional dalam bidangnya, karena mereka yang terus menggeluti dan melakukan proses kreatif. Jadi, memposisikan seniman tradisional pada tempat yang menjadikan mereka sebagai tenaga trampil atau ahli dibidangnya adalah bagian penting dalam melestarikan kesenian tradisional, bahkan dapat memberikan improvesasi yang kreatif dan membuka peluang adanya inovasi pada bidang yang digelutinya.
Kehidupan kritik seni perlu ditumbuhkan, sehingga semua penyajian kesenian tradisional dapat ter-‘cover’ dan menggairahkan. Di lain pihak, kritikus juga jangan bertindak layaknya seorang hakim kesenian.
Pertemuan-pertemuan antar budayawan, seniman, pengamat dirasa masih kurang frekuensinya, maka perlu dilipatgandakan. Tujuannya supaya ada tukar menukar informasi pengalaman yang saling menguntungkan.
Orang-orang pemerintah tidak perlu mencampuri wilayah kreativitas seni, serahkan sepenuhnya kepada seniman. Pemerintah cukup menyediakan fasilitas dan kemudahan-kemudahan. Pemberian ini pun jangan dibarengi dengan interes-interes non-kesenian.
Media cetak perlu lebih banyak memberikan porsi yang cukup bagi penulisan yang relevan pada pelaksanaan event-event kesenian tradisional.


Pangeran Paita Yunus lahir di Pangkajene Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan, pada tanggal 13 Nopember 1970. Sarjana Pendidikan Seni Rupa IKIP Ujung Pandang (1994), Magister Seni Murni ITB (1999). Saat ini (2011) sedang menempuh Pendidikan Doktoral Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di UGM Yogyakarta. Menjadi tenaga pengajar pada program studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar sejak 2000. Sekretaris Pusat Kuliah Kerja Nyata UNM (2003-2009). Pengurus BKKI Kota Makassar (2003-2007), Pengurus Pusat Sekolah Efektif UNM (2006-sekarang). Pengurus Ikatan Alumni ITB (2009-2013). Menulis artikel pada beberapa Koran lokal (Fajar dan Pedoman Rakyat), dan majalah (Gamma). Menulis pengantar Kuratorial pada beberapa Pameran Seni Rupa. Bersama rekan menulis buku: Seni Tradisional Sulawesi Selatan (Lamacca Press, 2004). Pendidikan Seni Bagi Siswa SMP sesuai KBK (Lamacca Press, 2006). Kritik Seni, sebuah pengantar (UNM Press, 2009). Dan akan segera terbit buku: Apresiasi Seni - Untuk Pendidik Seni Rupa Dan Pecinta Seni (2012). email: collipakue@yahoo.com




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar